Nyanyi Sunyi Revolusi, teater tentang Amir Hamzah yang epik abis


Posted : 06 Feb 2019

Brilio.net - Teater Nyanyi Sunyi Revolusi yang mengisahkan perjalanan hidup penyair ternama Amir Hamzah dipentaskan di Gedung Kesenian, Jakarta mulai 2-3 Februari 2019. Pementasan teater garapan Titimangsa Foundation yang bekerjasama dengan Djarum Foundation ini mengisahkan perjalanan hidup penyair bernama asli Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putra.

Pria kelahiran Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara) 28 Februari 1911 ini memiliki kisah cinta dan perjuangan terhadap negaranya yang penuh ironi dan tragedi.

Saat menepuh pendidikan di Solo, Amir menjalin kasih dengan seorang puteri Jawa, Ilik Sundari. Namun di tengah kemesraan mereka, prahara mulai menyapa. Ibu Amir meninggal dunia disusul sang ayah setahun kemudian. Sejak itulah biaya studinya di Tanah Jawa ditanggung sang paman, Sultan Mahmud yang merupakan Sultan Langkat.

Sejak awal sang paman tak menyukai aktivitas Amir di dunia pergerakan karena dianggap bisa membahayakan kesultanan yang memiliki hubungan dengan pemerintah kolonial Belanda. Untuk menghentikan aktivitas Amir di dunia pergerakan, sang paman memanggil Amir pulang ke Langkat. Amir pun dinikahkan dengan putrinya, Tengku Puteri Kamaliah.

Saat itu Amir bisa saja menolak. Tapi ia sadar betapa telah berhutang budi pada sang paman. Kenyataan inilah yang membuat Amir dan Ilik harus menyerah dan menerima kenyataan pahit, kisah cinta mereka harus berakhir, meski keduanya saling mencintai.

Sementara pernikahan Amir dan Tengku Kamaliah adalah pernikahan yang dipaksakan demi kepentingan politik. Keduanya terpaksa harus menjalani pernikahan itu meski mereka tahu bahwa masing-masing tak saling mencintai. Kerinduan dan kehilangan Amir pada Ilik tetap kuat membekas.


Belakangan Tengku Kamaliah mengetahui kisah cinta kasih Amir dan Ilik. Ia turut merasakan kesedihan cinta yang tak sampai itu. Pada puterinya, Tengku Tahura ia berniat mengajak Ilik ke Mekkah naik haji bertiga bersama Amir. Bahkan, jika Amir ingin tetap menikahi Ilik, ia merelakannya.

Tapi sebelum semua tercapai, suasana Revolusi Kemerdekaan membawa ketidakpastian politik yang membawa kerusuhan di seluruh Langkat. Atas hasutan segolongan laskar rakyat dengan agenda politik mereka, meletuskan kerusuhan sosial.

Istana Langkat diserbu dan dijarah. Begitu pula dengan nasib Amir. Ia diculik, ditahan dan disiksa di sebuah perkebunan, lalu dipenggal oleh orang kepercayaannya sendiri, Ijang Wijaya (Aliman Surya) yang tak lain guru silatnya semasa kecil.

Seperti perpisahan Amir dan Iliek, juga pernikahan Amir dan Tengku Kamaliah penuh kepentingan politik kolonial, demikian pula dengan kematiannya, yang diwarnai kekacauan dan kepentingan politik.  

Kisah inilah yang dipertontonkan dalam Nyanyi Sunyi Revolusi. Pada preview pementasan yang digelar Jumat (1/2). Para pelakon sukses memukau penonton. Malah para pemain mampu mengaduk-aduk emosi penonton melalui jalan cerita perjuangan Amir Hamzah yang penuh liku.  

Selain itu, kisah romansa “cinta tak sampai” Amir Hamzah hingga akhir hayatnya juga sukses menguras air mata penonton. Sang sutradara, Iswadi Pratama mampu menempatkan potongan tujuh segmen dalam pementasan ini menjadi satu cerita utuh yang apik.

Setting panggung yang dibuat secara artistik disesuaikan dengan kehidupan masyarakat melayu Langkat, termasuk dialek melayu yang diadaptasi dari kehidupan era Amir Hamzah, seakan menghidupkan kembali kisah perjuangan sang penyair. 

Pertunjukan semakin apik dengan penampilan total para pemain. Mereka mampu menggiring fokus penonton untuk menyaksikan pertunjukan ini hingga akhir tanpa anti klimaks. Memerankan sosok Amir Hamzah, Lukman Sardi mampu memperlihatkan kualitas keaktorannya.

Begitu juga dengan pemain lain seperti Prisia Nasution yang sukses memainkan sosok Tengku Tahura, anak Amir Hamzah yang harus menanggung beban kegetiran masa lalu orang tuanya.

Semantara Sri Qadariatin juga berhasil memerankan tokoh Iliek Sundari, kekasih Amir Hamzah di Tanah Jawa. Dia mampu memperlihatkan kesedihan mendalam akibat kasihnya bersama Amir Hamzah tak kesampaian karena persoalan egoisme dan kepentingan politik kolonial.   

Kepiawaian memerankan tokoh juga diperlihatkan Dessy Susanti yang memainkan sosok Tengku Kamaliah. Dessy sukses mempertontonkan sosok seorang isteri yang mengabdi pada suami tercintanya, meski dirinya tahu sang suami awalnya tak mencintainya.

Para pemain muda lainnya juga menunjukkan kemampuan brilian di atas panggung yang membuat alur cerita kisah ini semakin lengkap dan layak menjadi tontonan budaya. Selain itu, alunan musik melayu yang mengiringi jalannya pertunjukan semakin membuat nuansa kehidupan Amir Hamzah di masa penjajahan Belanda pada era 1930-an makin terasa.

Meski jalan cerita dan narasi yang naskahnya ditulis Ahda Imran ini cukup serius, namun pertunjukan teater ini berhasil disampaikan dengan gamblang. Pertunjukan ini pun bisa dinikmati para milenial yang tampak memenuhi Gedung Kesenian.

“Karena kita membutuhkan riset yang cukup lama, sekitar dua setengah tahun, makanya narasi yang tampak berat bisa dinikmati anak muda,” ujar Produser sekaligus pendiri Titimangsa Foundation, Happy Salma usai pertunjukan.

Dijelaskan Happy, selama ini Titimangsa Foundation banyak mengangkat atau mengalihwahanakan karya sastra yang ada di tanah Jawa. Pertunjukan Nyanyi Sunyi Revolusiadalah kisah melayu. Tak heran bagi Happy pertunjukan ini bak impian yang terwujud. “Saya merasa puas itu bisa terlaksana dan bisa diwakilkan teman-teman,” katanya.

Ya, pementasan ini memang disajikan bukan sekadar hiburan semata. Tapi sebagai upaya mengangkat sastra Indonesia ke dalam seni pertunjukan. Judul Nyanyi Sunyi Revolusi sendiri diangkat dari kumpulan puisi Amir Hamzah, Nyanyi Sunyi (1937). Tokoh yang satu ini memang dikenal sebagai penyair Pujangga Baru yang juga pahlawan nasional.

Sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru” begitu HB Jassin menyebut Amir Hamzah, merupakan tokoh yang berperan penting dalam kesusasteraan Indonesia. Meski hidup sebagai keluarga bangsawan, namun Amir Hamzah memiliki perangai yang lebih condong pada kehidupan masyarakat jelata. Memiliki hati yang lembut tapi tegas dalam bersikap.  

Menurut sang sutradara, sosok Amir Hamzah tidak menyisakan pernyataan atau tulisan yang membakar dan mampu menggerakkan massa dalam jumlah besar untuk melawan atau menentang. Namun Amir menyisakan dua kata bersahaja bagi kita yang hidup saat ini, yakni memaafkan dan mencintai.

“Di antara gelombang revolusi sosial yang berkecamuk, Amir tetap tampil sebagai seorang penyair, seorang suami, dan seorang ayah yang lembut dan semata-mata ingin melindungi keluarganya dengan cinta dan rasa percaya yang begitu teguh pada kebajikan. Inilah yang kita pertontonkan dalam teater,” ujar Iswadi.

Ya sosok Amir Hamzah merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Kecintaannya pada bahasa Indonesia dapat dilihat dari dukungannya kepada Sumpah Pemuda. Ia berkomitmen selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai pertemuan dan kehidupan sehari-hari.

Menurut Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian, kiprah Amir Hamzah ini harus disebarluaskan kepada generasi saat ini, bahwa bahasa Indonesia melalui proses tidak mudah untuk menjadi bahasa pemersatu seperti yang dikenal saat ini.

“Melalui pementasan ini, harapan kami masyarakat Indonesia menjadi lebih bangga pada bahasanya dan khazanah sastra Indonesia di mana karya sastra itu menggambarkan serta mampu menjadi sumber untuk menggali identitas dan peradaban suatu bangsa,” ujar Renitasari.

Yang jelas pertunjukan teater ini bisa membuka cakrawala dan khazanah budaya para penonton khususnya para milenial. Epik banget.

Source. https://www.brilio.net/serius/nyanyi-sunyi-revolusi-teater-tentang-amir-hamzah-yang-epik-abis-190203y.html

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google

Artikel Lainnya